SEJARAH SUNDA WIWITAN
Sunda Wiwitan, Sunda yang berarti nama suku di Jawa Barat dan Wiwitan yang berarti asal mula. Dengan demikian, Sunda Wiwitan berarti Sunda asal atau Sunda yang asli. Dengan pengertian di atas, Sunda wiwitan dimaknai sebagai aliran kepercayaan yang dianut oleh orang Sunda asli dari dahulu hingga saat ini. Asal-usul Sunda wiwitan tidak dapat di ketahui penanggalannya secara pasti. Tidak seperti agama yang dapat diketahui kemunculannya dengan ditandai risalah kenabian. Tetapi, masyarakat pemeluk Sunda Wiwitan percaya bahwa awal manusia yaitu Nabi Adam. Mereka percaya bahwa adam adalah nenek moyang mereka. Dalam kepercayaannya (suku Badui) Sunda wiwitan adalah ajaran yang di bawa oleh nabi Adam sebagai manusia pertama yang di turunkan di muka bumi untuk menikmati segala isinya dan menjaga serta memelihara dengan baik, dengan tidak merusak bagian bumi dan segala isinya. Sunda wiwitan adalah sebuah aliran kepercayaan orang-orang Sunda terdahulu . Mereka meyakini kepercayaan tersebut sebagai kepercayaan Sunda asli / kepercayaan masyarakat asli Sunda. Kepercayaan Sunda Wiwitan terdiri dari dua kata yaitu Sunda dan Wiwitan.
Aliran kepercayaan Sunda wiwitan terdapat di kampung cirendeu di Bandung terletak di desa adat lembah Gunung Kunci, Gunung Cimenteng dan Gunung Gajahlangu, namun secara administratif Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.
Sunda dimaknai dengan tiga konsep dasar, yaitu:
1. Filosofis yang berarti bersih, indah bagus cahaya;
2. Etnis yang merujuk kepada sebuah komunitas masyarakat layaknya masyarakat lainnya;
3. Geografis yang merujuk pada penamaan suatu wilayah. Dalam hal ini di bedakan dengan istilah Sunda besar yang meliputi pulau besar di indonesia (saat itu nusantara) seperti jawa, Sumatera, kalimantan. Dan Sunda kecil yang meliputi bali, Sumbawa, lombok Flores dan lain-lain.
Hubungan antara manusia dengan sesama manusia dalam masyarakat Sunda pada dasarnya harus dilandasi oleh sikap ―silih asih, silih asah, dan silih asuh‖, artinya harus saling mengasihi, saling mengasah atau mengajari, dan saling mengasuh sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kerukunan dan kedamaian, ketentraman, dan kekeluargaan, seperti tampak pada ungkapan-ungkapan berikut ini:
a. Kawas gula jeung peuet yang artinya hidup harus rukun saling menyayangi, tidak pernah berselisih
b. Ulah merebutkeun balung tanpa eusi yang artinya jangan memperebutkan perkara yang tidak ada gunanya.
c. Ulah ngaliyarkeun taleus ateul yang artinya jangan menyebarkan perkara yang dapat menimbulkan keburukan atau keresahan.
d. Ulah nyolok mata buncelik yang artinya jangan berbuat sesuatu di hadapan orang lain dengan maksud mempermalukan
e. Buruk-buruk papan jati yang artinya berapapun besar kesalahan saudara atau sahabat, mereka tetap saudara kita, orang tua tentu dapat mengampuninya.
Dalam hal ini jelas terlihat bahwa masyarakat Sunda pada masa lalu sudah mempunyai ukuran baik dan buruk, dan memiliki aturan yang harus dijalankan oleh seluruh anggota masyarakat, pada zaman itu mempunyai peranan yang sangat tinggi. Orang Sunda berpandangan bahwa manusia harus punya tujuan hidup yang baik, dan senantiasa sadar bahwa dirinya hanya bagian kecil saja dari alam semesta. Sifat-sifat yang di anggap baik harus sopan, sederhana, jujur, berani dan teguh pendirian dalam kebenaran dan keadilan, baik hati, bisa di percaya, menghormati dan menghargai orang lain, waspada, dapat mengendalikan diri, adil dan berpikiran luas serta mencintai tanah air dan bangsa. Untuk mempunyai tujuan hidup yang baik. Dalam masyarakat Sunda wiwitan untuk menuju kehidupan yang baik harus mempunyai guru yang menuntunnya ke jalan yang benar, dan di anjurkan bertanya kepada orang yang paham dan ahli dalam bidangnya. Jika di ingatkan dengan kritikan terimalah dengan hati terbuka dan ambil manfaatnya dari teguran tersebut.
dalam ajaran Sunda wiwitan ada 3 pembagian menuju manusia yang utama yang pertama adalah manusia utama yaitu “orang yang baik rupanya, baik tingkahnya dan baik perbuatannya”. Yang kedua adalah “bila ada orang yang buruk rupanya, pandir hatinya dan baik perbuatannya”, yang demikian itu “tirulah perbuatannya dan jangan tiru hatinya serta perhatikan rupanya”. Yang ketiga adalah orang yang buruk rupanya, buruk hatinya dan buruk pula perbuatannya, yang seperti ini jangan di tiru karena hanya menjadi tumbal karena kebusukan di antara manusia. Dan masyarakat Sunda wiwitan di anjurkan untuk bertanya kepada orang yang ahli dalam bidangnya. Agar manusia mencapai kehidupan yang sejahtera.
Di dalam Sunda Wiwitan adanya keyakinan, yaitu keyakinan terhadap jati dirinya sendiri sebagai orang Sunda Wiwitan, awalnya masuk agama ke Sunda Wiwitan yaitu di tahun 1951, masyarakat sunda wiwitan yang dulu hanya percaya kepercayaan nenek moyang, sekarang sudah memiliki agama masing-masing sesuai kepercayaannya. Suku sunda sekarang ini sudah menyebar ke dalam pulau-pulau lain di seluruh Indonesia, tidak hanya ada di Jawa Barat saja. Akan tetapi masyarakat sunda kental yang berada berada diluar jawabarat masih mempunyai jiwa untuk mempertahamkan peninggalan budaya dari leluhurnya, salah satu pakaian adat yang digunakan dalam suatu acara seperti upacara adat, tari-tarian.
PAKAIAN ADAT SUNDA WIWITAN
Suku sunda mempunyai 3 jenis pakaian adat yang diurutkan dari segi strata sosial, yaitu :
1. Pakaian adat untuk rakyat jelata
Pakaian adat sunda ini tidak terlalu isitimewa, kaum lelaki memakai celana panjang sampai betis dan di ikat menggunakan kain ataupun kulit. Untuk bagian atas mengenakan baju salontren dan sarung poleng ditata menyilang digunakan selama kegiatan keseharian. Memakai ikat logen untuk menutup kepala dan alas kaki cukup menggunakan sandal tarumpah. Lalu untuk kaum wanita, mengenakan kain batik untuk bawahan, beubeur untuk ikat pinggang, dan kamisol untuk bra. Agar memperindah tampilan, untuk wanita biasanya memakai jucung bun pada rambutnya, gelang akar bahar di lengannya, dan cincin polos. Untuk alas kaki cukup menggunakan sandal keteplek.
2. Pakaian Adat Sunda untuk Rakyat Menengah
Pakaian adat satu ini lebih identik pada seorang pedagang atau saudagar, yang tentu stratanya lebih tinggi dari pada rakyat jelata. Untuk kaum Pria mengenakan baju bedahan putih, kain kebat batik, dan alas kaki dengan tarumpah serta ikat kepala, biasanya ia menambahkan aksesoris lain yang digantungkan pada saku baju berupa arloji rantai emas. Sedangkan untuk pakaian wanita, menggunakan kain kebat batik sebagai atasan, beubeur, selendang, serta perlengkapan hiasan lainnya.
3. Pakaian Adat Sunda untuk Bangsawan
Untuk pakaian kaum Bangsawan Pria yang digunakan adalah jas tutup berbahan dasar beludru hitam dengan hiasan sulaman benang emas di ujung tepi dan tepi lengan, kain dodot dengan motif rengreng, sabuk emas, celana panjang, bendo, dan selop hitam. Sedangkan untuk bangsawan wanita, mengenakan kebaya berbahan dasar buludru hitam, kain kebat, dan alas kaki yg dihiasi dengan manik-manik. Untuk mempercantik tampilannya, ditambahkan tusuk konde pada rambut yang di sanggul, peniti rantai, dan bros.
MAKANAN POKOK
Masyarakat Kampung Cireundeu tidak mengkonsumsi nasi seperti masyarakat pada umumnya. Awalnya saya berpikir bahwa masyarakat yang memakan singkong (Orang Aceh menyebutnya Ubi Kayu) adalah masyarakat yang tidak mampu, namun pemikiran saya berubah ketika saya mendatangi kampung tersebut. Mereka mengkonsumsi singkong, bukan karena tidak mampu tapi karena masih mempertahankan tradisi adat turun-temurun.
Singkong diolah menjadi rasi yang dibuat dari tepung singkong (Orang Aceh menyebutnya Ubi Kayu). Saya mencoba menyicipinya dan rasanya mirip nasi namun ada rasa berseratnya.pada awalnya mereka juga memakan nasi, namun buyut mereka mendapat wangsit dalam mimpinya. “ Semua makanan yang dimakan manusia seperti padi, jagung, sayur mayur mendatangi buyut masyarakat Cireundeu, dalam mimpinya itu beliau disuruh mengganti makanan pokok mereka, pertimbangannya adalah pada masa depan manusia akan mengalami pertumbuhan jumlah yang besar, tanah persawahan semakin menyempit dan hampir semua manusia memakan nasi sehingga akan terjadi kesulitan pangan. Dalam mimpi tersebut dia disarankan untuk menggantinya dengan makanan singkong/ubi. Mengapa ubi menjadi pilihannya? Itu karna ubi bisa ditanam dimusim apa saja dan panennyapun sangat cepat tidak seperti padi.” Setelah mendapat wangsit tersebut buyut mereka memerintahkan kepada masyarakat untuk mengganti makanan mereka dengan ubi. Sejak saat itu hingga sekarang mereka menjadi kampung yang berdaulat atas pangannya.
Banyak Penghargaan yang diterima oleh mereka karna ketahanan pangannya.Masyarakat adat Kampung Cireundeu mempunyai prinsip hidup yang dianut yaitu: “Teu Nyawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat” yang maksudnya adalah tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal dapat menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal kuat. Dengan maksud lain agar manusia ciptaan Tuhan untuk tidak ketergantungan pada satu makanan pokok saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar